SHOP DRAWING

SHOP DRAWING
1. UMUM
Bagi pelaku industry konstruksi ; Shop Drawing sudah menjadi istilah yang sering terdengar, terutama saat proyek tengah berlangsung.
Apa yang dimaksud dengan Shop Drawing? Apa bedanya dengan berbagai gambar-gambar lain yang diproduksi selama proses proyek?
 Gambar Tender? (Tender Drawing).
 Gambar Kontrak? (Contract Drawing).
 Gambar Pelaksanaan? (For Construction Drawing).
 Gambar Kerja? (Shop Drawing).
 Gambar Terlaksana? (As Build Drawing).
Dalam proses perencanaan masih ada sebutan untuk gambar-gambar yang diproduksi selama perencanaan.
 Gambar Konsep (Concept Drawing).
 Gambar Skematic (Schematic Drawing).
 Gambar Pengembangan Rancangan (Design Development Drawing).
 Gambar Perencanaan (Detail Engineering Drawing).

2. MEMAHAMI SHOP DRAWING
Tidak kita sadari, evolusi dalam industri konstruksi terjadi di berbagai aspek dan komponen industry konstruksi. Buku harian yang dikenal dalam AV-41 (Algemene Voorwaarden Voor De Uitvoering Bij Aanneming van Openbare Werken), sebagai cara komunikasi diantara pelaku industry dalam pelaksanaan proyek sudah ditinggalkan +/- 40 tahun.
Gambar perencanaan praktis menjadi gambar kontrak dan sekaligus menjadi Gambar Pelaksanaan. Gambar Kerja praktis tidak dibutuhkan, karena kualitas gambar perencanaan sudah cukup detail dipergunakan untuk pelaksanaan.
Kontraktor sudah dapat langsung membuat “daftar potong bengkok besi” (Bar Bending Schedule), pembuatan Gambar Kerja umumnya terbatas pada konstruksi baja atau kayu yang akan terlebih dahulu diproduksi di bengkel.
Gambar balok beton “dahulu” sudah sekualitas “shop drawing” sekarang, diameter, jumlah, penghentian tulangan dan bentuk tekuk jelas tergambar, baik untuk tulangan utama, maupun untuk sengkang.
Saat ini, umumnya penggambaran setiap disiplin pekerjaan dibagi dalam 3 kelompok gambar :
 Standard Detail Drawing dan Notasi.
 Gambar pokok/rujukan, denah, tampak & potongan.
 Gambar detail.
Harus dipahami bahwa Gambar Kerja (Shop Drawing) adalah gambar terakhir yang dipergunakan untuk pelaksanaan, dan karena itu gambar kerja ini tidak boleh salah agar pelaksanaan tidak salah.

3. MEMBUAT SHOP DRAWING
Memahami tujuan Shop Drawing, maka pembuatan Shop Drawing harus menjadi produk dari proses engineering, bukan sekedar membuat gambar detail. Gambar kerja struktur harus benar terhadap tuntutan pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal dan tidak boleh salah terhadap arsitektur. Gambar kerja harus sesuai dengan kenyataan/ukuran lapangan dan harus sesuai terhadap material dan alat/peralatan yang akan digunakan/dipasang.

chart 2

Kontraktor harus memahami, bahwa kesalahan shop drawing ataupun pelaksanaan terhadap ketentuan kontrak, adalah menjadi tanggung jawab kontraktor.

Kontraktor haruslah mendapatkan dokumen yang cukup dan kualitas memadai untuk dapat memproduksi shop drawing, dank arena itu kontraktor harus meminta kekurangan dokumen perencanaan, dan sebaliknya Pemilik/Perencana/MK wajib memenuhinya.
Kontraktor harus mempelajari semua dokumen pendukung, gambar, spesifikasi, keadaan lapangan, material/Equipment yang akan dipergunakan, dan menyajikan secara baik dalam shop drawing.

4. PENGENDALIAN SHOP DRAWING
Shop Drawing adalah bagian dari proses konstruksi yang teramat penting, dank arena itu harus dikendalikan untuk dapat memenuhi fungsi dalam pelaksanaan maupun untuk pembuatan As Build Drawing, maupun memastikan perubahan terhadap Gambar Pelaksanaan atau perubahan sebagai Variation Order (VO).
 Kendali Gambar Shop Drawing.
Produksi Shop Drawing harus dikendalikan, penomoran, tanggal dan memastikan, merupakan bagaian mana dari gambar Pelaksanaan. Kendali ini sebaiknya tercantum dalam gambar Pelaksanaan yang digunakan sebagai gambar kendali (disarankan dalam ukuran A3).
 Format Shop Drawing.
Mencegah upaya “copy paste”, sebaiknya format Shop Drawing diubah dari format Gambar Pelaksanaan. Apabila format Gambar Pelaksanaan dibuat dengan judul/Head vertical disebelah kanan, ada baiknya Shop Drawing diproduksi dengan Judul/Head mendatar disisi bawah gambar.
 Referensi.
Shop Drawing harus secara jelas menuliskan gambar/dokumen yang menjadi acuannya secara terinci (Referensi), membuktikan bahwa proses engineering telah dilakukan pada acuan yang seharusnya dan memudahkan MK ataupun pemeriksa/penyetuju lanjut.
 Penandatanganan Sisi kontraktor.
Sebagaimana lazimnya, maka penandatanganan Shop Drawing sisi Kontraktor memuat : digambar oleh, diperiksa oleh dan disetujui oleh.
 Penandatangan Persetujuan Pemilik, Perencana dan MK.
Gambar-gambar prinsip, sebaiknya diperiksa oleh perencana agar ide, system dan prinsip perencanaan yang diinginkan tercapai. Sering juga Pemilik ikut menyetujui, terlebih untuk performance arsitektur ataupun yang mengakibatkan perubahan atau pekerjaan tambah/kurang.
Pemeriksaan dan persetujuan oleh MK harus melibatkan disiplin Arsitektur, Struktur dan ME terlebih bila disiplin pekerjaan tersebut seharusnya terjadi pada lingkup yang sama.
Pernyataan bahwa : persetujuan Shop Drawing tidak melepaskan Kontraktor dari semua ketentuan dalam kontrak, harus tercantum dengan jelas, apakah dicetak atau di stempel.
 Monitoring/Kendali.
Syarat-syarat kontrak memberi tenggang waktu untuk memeriksa dan menyetujui/menolak Shop Drawing.
Keterbatasan waktu, dan tuntutan percepatan, terutama karena keterlambatan pelaksanaan, tenggang waktu dalam RKS tidak mudah diberlakukan dan disepakati waktu yang lebih cepat.
Shop Drawing harus di list dalam monitoring, sehingga kapan diterima MK, kapan disetujui tercatat dengan baik, termasuk beberapakali revisi dan distribusi gambar.
 Filing.
Filing adalah bagian penting terutama untuk perhitungan quantity, pekerjaan tambah/kurang dan untuk membuat As Build Drawing.
5. FORMAT-FORMAT
Format-format dan flow-chart terkait dapat dilihat dan di-unduh melalui Drop Box :
 Flow-chart Shop Drawing.
 Format Shop Drawing.
 Format Monitoring Shop Drawing.
 Contoh Gambar Kendali & Filing.

Author : Victor H  Sianipar